Banyak kegiatan dan suara bising memenuhi ruang workshop di iCAN.

Asep Nata membuat semua orang bingung dengan karyanya–dia membuat lonceng sapi dari logam tong. Bentuknya terlihat menarik, begitu pun suaranya, yang menghasilkan 3 nada berbeda. Kami memintanya untuk bekerja di luar ruangan, karena suara mesin gerinda logamnya sungguh bising, bahkan untuk orang-orang bertelinga budek seperti kami.

Di luar ruangan, Asep menunjukkan koleksi Karinding yang dia buat, alat musik tradisional  Jawa Barat yang mengahsilkan suara “seperti katak besar di tengah sawah”. Asep mengatakan bahwa alat musik ini sudah ada sejak zaman Neolitik ke-4 (sekitar 5,000 tahun SM) yang ditemukan pada penggalian arkeologis di Philippina. Asep berusaha menjawab persoalan bagaimana memperkeras bunyi “Karinding Towel” buatannya, yang menghasilkan bunyi harmonis yang kompleks tetapi sangat pelan.

Rod Cooper tampaknya mendapatkan sesuatu yang sungguh-sungguh membuatnya tertarik, yang mungkin merupakan pengaruh dari suara bising yang dibuat Asep. Dia mengumpulkan logam asahan dari sisa-sisa karya Asep, melekatkannya ke permukaan banjo yang suaranya kemudian diperkencang dengan pickup gitar elektrik. Vibrasi kotak logam berpadu dengan membran banjo, menggetarkan medan magnet pickup dengan cara yang sulit dimengerti, tetapi suaranya sungguh kencang.

rod-iron

Di sudut lain  Ardi Gunawan mulai membangun karya patung berbasis senar dengan menggunakan senar pancing yang dua ujungnya dipancangkan pada rangka kayu, dan dilekatkan pada dinding yang sudah ada di ruang workshop. Suara yang dihasilkan darinya diperkuat dengan menggunakan mikrofon contact yang ditanamkan pada rangka kayu. Iqbal, asisten Ardi, tampak sedang mengukur senar.

Ardi Gunawan's string instrument starting to come together

Dylan Martorell dan Wukir Suryadi tengah sibuk bekerja menambahkan piranti perkusi robotik pada garu (pembajak tanah) pemberian seorang arkeolog pada Wukir. Dylan berupaya keras beradaptasi dengan piranti ini, dan sudah terlihat indah, dan harus melalui perasaan ragu-ragunya.

wukir-and-dylan

Michael Candy dan Pia Van Gelder menghabiskan hari bersepada motor keliling Yogya, bersama seniman Yogya Andreas Siagian, mengunjungi toko-toko elektronik untuk mencari komponen elektronik. Pia mungkin akan membuat sintisiser yang bisa dikendalikan secara visual. Yang menarik, Michael tampaknya akan membuat alat musik bertenaga panas kawah gunung berapi. Candy melawan gunung berapi.

Andreas and Michael at DigiWare

Junk Shop

 

Ditulis oleh Joel Stern.